pusat dari makalah-makalah perguruan tinggi semuanya akan dan sudah diposting disini. free copy paste, tapi jangan lupa tinggalkan komentar dan identitas blog (untuk menghargai penulis).
Strategi atau metode dalam sistem belajar mengajar itu sangat bervariasi dan berkreatif. Salah satunya yaitu metode pemilihan kartu atau card sort. Metodeini sangat kreatif bila digunakan dalam sistem belajar mengajar. Metode ini merupakan kegiatan kolaborasi yang bisa digunakan untuk mengajar koonsep, karakteristik, klasifikasi, fakta, tentang obyek atau mereview informasi. Gerakan fisik yang dominan dalam strategi ini dapat membantu mendinamiskan kelas yang jenuh atau bosan. Gerakan fisik yang ada di dalamnya dapat membantu menggairahkan siswa yang penat dan dapat memperbaiki mutu belajar siswa.
Dengan banyaknya metode atau strategi dalam sistem belajar mengajar akan lebih memotivasi siswa dalam belajar dan siswa tidak akan merasa monoton dalam belajar agar lebih semangat dalam belajar. Seorang pendidik supaya lebih berkreatif dalam memberikan strategi belajar yang berbeda-beda dalam kelasnya.untuk lanjut klik judul..........This file presented by:
Dilihat dari berita dalam Koran tersebut yaitu, dua orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri, kalau dianalisis dengan teori psikologi korban gantung diri itu mengalami gangguan psikologi yaitu mengalami depresi. Yaitu, korban yang pertama yang bernama SUKUR ROKHANI warga desa Kertosari yang mengalami depresi yaitu akibat persoalan pribadinya sedangkan korban kedua yaitu yang bernama TIJAH warga Desa Kutuwetan mengalami depresi akibat menderita sakit yang menahun namun tidak kunjung sembuh.
Dalam pengertiannya depresi adalah penyakit yang melibatkan tubuh, suasana hati, dan pikiran. Depresi mempengaruhi cara seseorang makan dan tidur, salah satu cara merasa tentang diri sendiri, dan salah satu cara berfikir tentang hal-hal. Ini bukan tanda kelemahan pribadi atau suatu kondisi yang dapat menghendaki atau ingin pergi. Orang depan depresi tidak bisa hanya menarik diri bersama-sama dan lebih baik.[1]
This file presented by:
Firok Atul Akyun (210910019 TI-A).
lanjut .....>>>>
Penyebab depresi yaitu terbagi menjadi enam bagian yaitu: kurang berfikir positif, kurangnya rasa percaya diri, lebih memperhatikan kesalahan, merasa tertekan karena berbagai kewajiban dalam hidup, merasa lemah, dan faktor genetis.
1.Kurang Berfikir Positif
Ketika seseorang mengalami depresi, mereka merasa bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, dan hal ini akan terjadi berulang kali. Dalam kejadian semacam ini, orang tersebut melihat lebih banyak hal buruk terhadap sesuatu, secara sadar maupun tidak sadar.
2.Kurangnya Rasa Percaya Diri
Orang-orang yang depresi tidak memiliki rasa percaya diri dan merasa selalu menganggap semua yang terjadi sebagai kegagalan mereka. Bahkan kesalahan sekecil apapunmereka anggap sebagai masalah yang besar dan merasa hal-hal tersebut menguras perhatian mereka jauh lebih besar dari pada umumnya.
3.Lebih Memperhatikan Kesalahan
Dalam kehidupan, kita pasti melakukan kesalahan, beberapa orang membuat lebih banyak kesalahan. Orang yang menderita depresi lebih memfokuskan diri pada jumlah kesalahan yang mereka buat. Sebagai hasilnya, mereka menciptakan kesan negatif mengenai kesalahan.
4.Merasa Tertekan KarenaBerbagai Kewajiban Dalam Hidup
Dalam situasi ini orang-orang selalu berfikir apa yang seharusnya mereka lakukan dan tidak seharusnya mereka lakukan.
5.Merasa Lemah
Mereka menyadari seperti apa diri mereka dalam keadaan normal namun mereka tidak menyukainya. Mereka menyadari apa yang seharusnya mereka lakukan namun mereka tidak mampu utuk melakukannya. Pada titik ini, depresi tidak membiarkan mereka merasakan kehagiaan dan optimisme.[2]
6.Faktor Genetis
Penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak yang diadopsis dan anak-anak kembar mendukung pemikiran yang menyatakan bahwa depresi mayor merupakan suatu gangguan yang bersifat turu tumurun. Dan gen dapat menyebabkan seseorang mengalami depresi dengan cara mempengaruhi tingkat serotonim dan saraf pengantar lainnya yang terdapat diotak. Gen juga dapat mempengaruhi produksi dari hormone stress, kortisol, yang pada dosis tertentu dapat mengakibatkankerusakan pada hipokampus dan amygdale. Namun gen tidak dapat dianggap bertanggung jawab dalam semua kasus depresi, bahkan pada masyarakat newzeland yang memiliki kerentanan genetis paling tinggi, lebih dari setengah tidak mengalami depresi.[3]
Dalam permasalahan yang dialami oleh korban gantung diri yang pertama dalam berita tersebut bila dikaitkan dengan penyebab depresi yang dialaminya yaitu disebabkan oleh kurang berfikir positif dalam menangani masalah. Korban tersebut merasa bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi dan dia juga berfikir bahwa kejadian itu akan terjadi berulang kali. Karena korban tidak bisa mengatasi dengan baik maka yang diakibat dia merasa kurang percaya diridan menganggap semua yang terjadi sebagai kegagalan mereka. Masalah yang dia hadapi itu seakan-akan membuat kehidupannya akan hancur bahkan masalah kesalahan sekecil apapun dia anggap sebagai masalah besar dan masalah tersebut akan menguras perhatiannya jauh lebih besar dari orang pada umumnya.
Jika korban yang kedua masalah yang dihadapinya bila dikaitkan dengan penyebab depresi yang dialami yaitu disebabkan oleh depresi yang merasa lemah. Dia menyadari seperti apa diri mereka dalam keadaan normal namun mereka tidak menyukainya. Pada titik ini depresi tidak membiarkan mereka merasakan kebahagiaan dan optimisme. Korban mengalami sakit yang bertahun-tahun yang tidak kunjung sembuh-sembuh yang membuat kehidupannya itu merasa kurang bermanfaat dan dia juga berfikir jika dia merasa tidak berguna hidupnya karena hanya membuat susah orang-orang yang ada disekelilingnya saja, akibatnya dia mengalami depresi yang sangat berat dan mdia berfikir jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalahnya yaitu dengan mengakhiri hidupnya.
Dalam depresi itu terdapat bermacam-macam jenisnya yaitu terdapat tiga macam depresi yaitu:
1.Depresi Situasional
Depresi yang terjadi setelah suatu peristiwa traumatik, seperti kematian orang yang dicintai.
2.Holiday Blues
Depresi yang terjadi ketika sedang berlibur atau merayakan sesuatu, bersifat sementara.
2.Depresi Endogenons
Depresi tanpa penyebab yang pasti.
Dari berbagai macam depresi di atas kedua korban gantung diri ini dianalisis berdasarkan gangguan psikologi yaitu depresinya yaitu depresi “SITUASIONAL”. Depresi yang terjadi setelah suatu peristiwa traumatik, seperti kematian orang yang dicintai. Korban mengalami masalah pribadi dan suatu penyakit yang tak kunjng sembuh-sembuh, yang menurutnya tidak bisa diselesaikan. Karena dia slah menanggapi msalah atau tidak bisa menyaelesaikan masalah dengan benar dan tidak bisa berfikir positif. Dalam penyelesainnya itu salah.
Depresi itu bisa ditangani atau diobati yaitu dengan pemberianobat-obatan yang merupakan langkah utama dalam mengobati depresi sekarang ini. dengan psikoterapi yaitu bisa dilakukan secara individu maupun dalam suatu kelompok. Terapi kelompok membantu penderita dan pasangannya atau keluarganya untuk memahami penyakitnya dan menghadapinya dengan lebih baik. Terapi yang lain yaitu dengan terapi elektrokonvulsifyang digunakan untuk mengatasi depresi berat, terutama pada: penderita psikotik, penderita yang mengancam akan melakukan bunuh diri, penderita yang tidak mau makan. Terapi ini biasanya sangat efektif dan bisa segera meringankan depresi. Dcara melakukan depresi ini yaitu dengan elektroda dipasang di kepala dan aliran listrik diberikan untuk merangsang kejang di dalam otak. Untuk alasan yang tidak dimengerti, kejang ini menyebabkan berkurangnya depresi, pengobatan ini dilakukan sebanyak 5-7 kali.[4]
Untuk itu bila mendapatkan atau mempunyai sebuah masalah harus diselesaikan dengan sebaik mungkin jangan mengambil jalan pintas dengan melakukan bunh diri. Bila kita sudah merasa tidak dapat menyelesaikannya dengan sendiri maka masalah itu bisa kita saling berbagi dengan teman atau keluarga kita, mungkin mereka dapat membantu meringankan beban masalah kita. Jangan kita pendam sendiri masalah itu akibatnya kita terkena gangguan psikologi yaitu depresi dan bisa berakibat buruk bagi kehidupan kita. Kalaupun kita tekena depresi itu bisa diatasi ataupun ditngani yaitu dengan cara yang ada di atas tersebut. Jangan menyelesaikan masalah dengan bunuh diri karena itu juga tidak akan membuat masalah selesai, tetapi malah menambah masalah semakin panjang.
The Grammar-Translation Method is not new. It has had different names, but it has been used by language teachers for many years. At one time it was called Classical Method since it was first used in the teaching of the classical languages, Latin and Greek. Earlier in this century, this method was used for the purpose of helping students read and appreciate foreign language literature. It was also hoped that, through the study of the grammar of the target language, student would become more familiar with the grammar of their native language and that this familiarity would help them speak and write their native language better. Finally, it was thought that foreign language learning would help students grow.........
This file presented by:
Masnuatul Khoiroh (210910008)
Nurul Umami (210910016)
TI.a '10
intellectually; it was recognized that student would probably never use the target language, but the mental exercise of learning it would be beneficial anyway.
B.THINKING ABOUT THE EXPERIENCE
No
Observations
Principles
1.
The teacher asks students in their native language if they have any questions. A student asks one and is answered in her native language.
The ability to communicate in the target language is not a goal of foreign language instruction.
2.
Students write out the answers to reading comprehension questions.
The primary skills to be developed are reading and writing. Little attention is given to speaking and listening, and almost none to pronunciation.
3.
The teacher decides whether an answer is correct or not. If the answer is incorrect, the teacher selects a different student to supply the correct answer or the teacher herself gives the right answer.
The teacher is the authority in the classroom. It is very important that students get the correct answer.
4.
Students translate new words from English into Spanish.
It is possible to find native language equivalents for all target language words.
5.
Students learn that English “-ty” corresponds to –dad and –tad in Spanish.
Learning is facilitated through attention to similarities between the target language and the native language.
6.
Students are given a grammar rule for the use of a direct object with two-word verbs.
It is important for students to learn about the form of the target language.
7.
Students apply a rule to examples they are given.
Deductive application of an explicit grammar rule is a useful pedagogical technique.
8.
Students memorize vocabulary.
Language learning provides good mental exercise.
9.
The teacher asks students to state the grammar rule.
Students should be conscious of the grammatical rules of the target language.
10.
Students memorize present tense, past tense, and past participle forms of one set of irregular verbs.
Wherever possible, verb conjugations and other grammatical paradigms should be committed to memory.
C. REVIEWING THE PRINCIPLES
What are the goals of teachers who use the Grammar-Translation Method?
According to the teachers who use the Grammar-Translation Method, a fundamental purpose of learning a foreign language is to be able to read literature written in the target language. To do this, students need to learn about the grammar rules and vocabulary of the target language.
What is the role of the teacher? What is the role of the students?
The roles are very traditional. The teacher is the authority in the classroom. The students do as he says so they can learn what he knows.
What are some characteristics of the teaching/learning process?
Students are taught to translate from one language to another.
What is the nature of student-teacher interaction? What is the nature of student- student interaction?
Most of the interaction in the classroom is from the teacher to the students. There is little student initiation and little student-student interaction.
How are the feelings of the students dealt with?
There are no principles of the method which relate to this area.
How is language viewed? How is culture viewed?
Literary language is considered superior to spoken language and is therefore the language students study. Culture is viewed as consisting of literature and the fine arts.
What areas of language are emphasized? What language skills are emphasized?
Vocabulary and grammar are emphasized. Reading and writing are the primary skills that the students work on. There is much less attention given to speaking and listening. Pronunciation receives little, if any, attention.
What is the role of the students’ native language?
The meaning of the target language is made clear by translating it into the students’ native language, the language that is used in class is mostly the students’ native language.
How is evaluation accomplished?
Written tests in which students are students are asked to translate from their native language to the target language or vice versa are often used.
How does the teacher respond to student errors?
Having the students get the correct answer is considered very important. If students make errors or don’t know an answer, the teacher supplies them with the correct answer.
D. REVIEWING THE TECHNIQUES
1.Translation of a Literary Passage
2.Reading Comprehension Questions
3.Antonyms/Synonyms
4.Cognates
5.Deductive Application of Rule
6.Fill-in-the blanks
7.Memorization
8.Use Words in Sentence
9.Composition
E. CONCLUSION
You have now had an opportunity to examine the principles and some of the techniques of the Grammar-Translation Method. Try to make a connection between what you have understood and your own teaching situation and beliefs
Submitted by
BLOG GURU
di
Kamis, Mei 10, 2012
NARRATIVE TEXT
The Legend of Coban Rondo
Once upon a time, there was a pair of new bride and bridegroom is perform marriage. Bride her name Dewi Anjarwati from Kawi Mountain is a marriage with Raden Kusuma from Anjasmoro Moutain.
After age their marriage reached thirty six day, Dewi Anjarwati invite for her husband visit to Anjasmoro Mountain. However, Dewi Anjarwati parent’s forbid bride and bridegroom go to Anjasmoro Mountain, because age their marriage new thirty six day. However, bride and bridegroom persist to went. Their go to Anjasmoro Mountain with all of them risk if to way. When in the way, both of them shocked with his arrive Joko Lelono is don’t clear his beginning. Visible Joko Lelono interesting with beauty Dewi Anjarwati and try to take by force. The battle cann’t spared to punokawan is their participate. Raden Baron Kusuma give a instruction in order that Dewi Anjarwati hidden in a place is a Coban (waterfall).
The battle perform utter a shout, the last same the fall. And than Dewi Anjarwati became widow. That since Coban place Dewi Anjarwati wait to her husband popular with called COBAN RONDO and big stone under waterfall is a seating position Dewi Anjarwati.
Menurut Suharsimi Arikunto (1998; 115) populasi adalah keseluruhan obyek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi atau biasa disebut juga penelitian sensus. Sedangkan menurut Sugiono (1994; 57) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/ subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam pandanganya bukan saja merupakan jumlah orang tetapi juga merupakan karakter atau sifat yang dimiliki oleh obyek yang diteliti.
Misalnya akan melakukan penelitian di lembaga X, maka lembaga X merupakan populasi. Lembaga X yang didalamnya terdiri dari sejumlah orang, maka populasi dalam pengertian ini adalah jumlah. Sedangkan berbagai karakter yang dimiliki oleh sejumlah orang dalam lembaga X yang mungkin sangat bervariasi, misalnya kedisiplinan, kepemimpinan, motivasi kerja, maka dalam hal ini populasi berarti karakter yang menempel dalam obyek penelitian.
Menurut Sugiono (1994) satu orangpun dapat digunakan populasi, karena satu orang dapat mempunyai beberapa karakteristik, misalnya gaya bicaranya, disiplin kerjanya, cara bergaulnya dan lain sebagainya. Misalnya akan melakukan penelitian terhadap kepala sekolah S maka kepemimpinan merupakan sample dari semua karakteristik yang dimiliki oleh kepala sekolah S.This file created by:
Name: Yth. Bpk Miftahul Choiri
Melihat jumlahnya populasi tidak terbatas, oleh karena itu dalam penelitian yang dibatasi oleh berbagai keterbatasan (keterbatasan waktu, dana dan tempat) maka agarhasil penelitian benar-benar menggambarkan keadaan populasi maka diperlukan adanya sample yang representatif sebagai wakil dari populasi yang jumlahnya tidak terbatas. Hal ini dimaksudkan agar dalam proses pengambilan generalisasi sedapat mungkin terhindar dari berbagai kesalahan, terutama kesalahan dari ketidakvalidan data yang diperoleh dari populasi itu sendiri.
B. Pengertian Sampel
Sugiyono (1996) berpendapat bahwa sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi terlalu besar maka untuk memudahkan penelitian maka perlu dilakukan pengambilan sampel (sampling). Sedapat mungkin dalam pengambilan sampel harus benar-benar menggambarkan keadaan populasi.
Pengambilan sampel yang tidak reprensentatif (tidak mewakili), ibarat orang buta menggambarkan keadaan gajah. Satu orang buta memegang telinga gajah, maka ia bilang bahwa gajah itu seperti kipas. Orang kedua memegang kaki gajah, maka ia bilang bahwa gajah itu seperti bambu yang besar. Orang ketiga memegang badan gajah yang besar, kemudian ia bilang bahwa gajah itu seperti tembok. Begitulah pengambilan sampel yang tidak representatif akan menggambarkan sesuatuitu salah, karena kesimpulannya terputus-putus, tidak utuh.
C. Teknik Pengambilan Sampel
Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian terdapat teknik sampling yang dapat digunakan. Secara umum teknik pengambilan sampel dapat dikelompokkan ke dalam 2 (dua) kelompok besar, yakni; probability sampling dan non probability sampling.
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama terhadap semua anggota populasi untuk dijadikan sampel. Teknik ini meliputi;
1. Simple Ramdom Sampling, dikatakan simpel (sederhana) karena pengambilan sampel dari semua anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi itu. Cara ini dilakukan apabila anggota populasi dianggap homogen.
2.Proportionate Stratified Random Sampling, teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/ unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Suatu perguruan tinggi Islam mempunyai mahasiswa dari berbagai latar belakang yang berbeda, maka populasi mahasiswa tersebut berstrata. Misalnya jumlah mahasiswa yang lulusan, STM = 50, SMEA, 75, SMU = 150 dan MA = 750. Jumlah mahasiswa yang dijadikan sampel dalam penelitian ini harus meliputi jenis pendidikan yang tertera yang diambil secara proporsional.
3.Disproportionate Stratified Random Sampling, teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel apabila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya sebuah peguruan tinggi mempunyai dosen; 5 orang lulusan S3, 17 orang lulusan S2 dan 105 lulusan S1, maka 5 orang lulusan S3 dan 17 orang lulusan S2 diambil sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlalu kecil apabila dibandingkan dengan kelompok S1.
4.Cluster Sampling, teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel apabila obyek penelitian yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya pelajar dari suatu propinsi, kabupaten atau karisidenan. Teknik sampling ini sering dilakukan melalui dua tahap, pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu juga secara sampling.
Nonprobability sampling adalah teknik yang tidak memberi peluang yang sama kepada setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini meliputi:
1.Sampling Sistematis, adalah teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi terdiri dari 1000 orang. Semua anggota diberi nomor mulai nomor 1 sampai 1000. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan lima dan seterusnya.
2.Sampel Kuota, adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampaijumlah (kuota) yang diinginkan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian terhadap calon jemaah haji tentang alasan apa yang melatar belakangi mereka menunaikan ibadah haji, kemudian ditentukan jumlah kuotacalon jemaah yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini.
3.SampelAksidental, adalah teknik penentuan sampel, berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Sebagai contoh, penelitian tentang ketaatanpara pemakai jalan terhadap peraturan berlalu lintas, kemudian seorang peneliti tidak menentukan siapa yang akan dijadikan sampel, namun mencatat jumlah orang yang melakukan pelanggaran terhadap rambu-rambu berlalu lintas, terutama pelanggaranyang terjadi di tempa yang ada lampu rambu-rambu lalu lintas. Berapa jumlah pemakai jalan yang melanggar rambu-rambu lalu lintas dalam setiap jamnya. Dari jumlah pelanggar ini, kemudian ditentukan jumlah sampelnya.
4.Sampel Purposive,adalah teknik penentuan sampel untuk tujuan tertentu saja. Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin guru dalam mengajar di kabupaten X, makasampel yang dipilih adalah seluruh guru yang mengajar di sekolah yang dikehendaki oleh peneliti sebagaiobyek penelitian.
5.Sampel Jenuh, adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain dari sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel.
6.Sampel Snowball, adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang bila menggelinding , makin lama makin besar.
D. Menentukan Jumlah Sampel
Jumlah sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang 100% mewakili populasi adalah sama dengan jumlah populasi.Jadi jumlah populasi 10000 dan hasil penelitian itu akan diberlakukan untuk 1000 orang tersebut tanpa ada kesalahan, maka jumlah sampel yang diambil sama dengan jumlah populasi tersebut. Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil, dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka semakin besar kesalahan generalisasi (Sugiono, 1994; 63)
Terdapat beberapa rumus yang dapat digunakan untuk menghitung besarnya sampel yang diperlukan dalam penelitian. Tetapi dalam buku ini disajikan cara menentukan ukuran sampel yang praktis, yaitu dengan tabel. Tabel yang digunakan adalah tabel Krejcie.
Krejcie dalam melakukan perhitungan ukuran sampel didasarkan atas kesalahan 5%. Jadi sampel yang diperoleh itu itu mempunyai tingkat kepercayaan 95% terhadap populasi. Tabel Krejcie ditunjukkan pada tabel5.1. Dari tabel ini terlihat bila jumlah populasi 100 maka jumlah sampelnya 80, bila populasi 1000 maka sampelnya 278, bila jumlah populasi 100.000 maka jumlah sampelnya 384. Dengan demikian makin besar populasi semakin kecil persentasi sampel. Oleh karena itu tepat bila ukuran populasinya berbeda persentase sampelnya, misalnya 10%.
Berikut contoh menentukan ukuran sampel. Penelitian dilakukan terhadap persepsi mahasiswa terhadap gaya mengajar dosen suatu perguruan tinggi. Sumber data yang digunakan adalah para mahasiswa dari suatu perguruan tinggi yang terdiri dari 3 (tiga) jurusan yang berbeda. Jumlah mahasiswanya 700 (populasi), terdiri dari mahasiswa jurusan Tarbiyah 350 orang, mahasiswa jurusan Syariah 250 orang dan mahasiswa jurusan Dakwah 200 orang (populasi berstrata).
TABEL 5.1
TABLE FOR DETERMINING NEEDED SIZE S OF A RAMDOMLY CHOSEN SAMPLE FROM A GIVEN FINITE POPULATION OF NCASES SUCH THAT THE SAMPLE PROPORTION rWILL BE WITHIN + .05 OF THE POPULATION PROPORTION rWITHA 95 PERCENT
LEVEL OF CONFIDENCE
N
S
N
S
N
S
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
85
90
95
100
110
120
130
140
150
160
170
180
190
200
210
10
14
19
24
28
32
36
40
44
48
52
56
59
63
66
70
73
76
80
86
92
97
103
108
113
118
123
127
132
136
220
230
240
250
260
270
280
290
300
320
340
360
380
400
420
440
460
480
500
550
600
650
700
750
800
850
900
950
1000
1.100
140
144
148
152
155
159
162
165
169
175
181
186
191
196
201
205
210
214
217
226
234
242
248
254
260
265
269
274
278
285
1.200
1.300
1.400
1.500
1.600
1.700
1.800
1.900
2.000
2.200
2.400
2.600
2.800
3.000
3.500
4.000
4.500
5.000
6.000
7.000
8.000
9.000
10.000
15.000
20.000
30.000
40.000
50.000
75.000
100.000
291
297
302
306
310
313
317
320
322
327
331
335
338
341
346
351
354
357
361
364
367
368
370
375
377
379
380
381
382
384
Catatan:N=populasi
S=sampel
Contoh:populasi 200 sampelnya 132. Tabel ini khusus untuk tingkat kesalahan 5 %
Jumlah populasi = 700. Bila kesalahan 5%, maka jumlahsampelnya = 248. Karena populasi berstrata, maka sampelnya juga berstrata. Strata menurut jumlah mahasiswa masing-masing jurusan. Dengan demikian masing-masing sampel untukmasing-masing jurusan harus proporsional sesuai dengan populasinya.
Jadi jumlah sampel untuk:
Tarbiyah=270x248=
700
Syariah=230x248=
700
Dakwah= 200x248=
700
Jumlah sampel=248
Angka yang terdapat koma dibulatkan ke atas sehingga jumlah sampelnya lebih akurat mendekati angka 248 secara keseluruhan.
E. Menentukan Anggota Sampel
Pada bagian awal bab ini telah dikemukakan terdapat dua teknik pengambilan sampel yaitu probability sampling dan non probability sampling. Probability sampling adalah teknik sampling yang memberi peluang yang sama kepada anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Cara demikian sering disebut dengan random sampling atau cara pengambilan sampel secara acak.
Pengambilan sampel secara randomatau acak dapat dilakukan dengan bilangan random, komputer maupun dengan undian. Bila pengambilan dilakukan dengan undian, maka setiap anggota populasi diberi nomor terlebih dahulu, sesuai dengan humlah anggota populasi. Misalnya jumlah populasi = 100, maka setiap anggota diberi nomor mulai dari nomor 1 sampai nomor 100. Selanjutnya bila kesalahan 5% maka jumlah sampelnya = 80.
Karena teknik pengambilan sampel adalah random, maka setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota populasi. Untuk contoh di atas peluang setiap anggota populasi = 1/100. Dengan demikian cara pengambilannya bila satu nomor telah diambil maka perlu dikembalikan lagi.
BAB VI
SKALA PENGUKURAN DAN INSTRUMEN PENELITIAN
Penelitian adalah upaya sistematis untuk menenmukan jawaban dari suatu permasalahan. Oleh karena itu setiap langkah yang dilakukan juga harus sistematik, terencana, serta mengikuti aturan-aturan dan persyaratan-persyaratan tertentu. Aturan-aturan inimencakup keseluruhan aspek penelitian sejak dari identifikasi masalah dan penjabaran variabel, penyusunan desain penelitian, sampai penarikan kesimpulan dan pengkaitan hasil analisis data dengan hipotesis dan pokok permasalahan dasarnya (Tuckman, 1978:11).
Selain sistematik penelitian juga bersifat logis, empiris, rediktif dan dapat diulang dengan harapan akan hasil yang (seharusnya) tidak terlalu berbeda, selama tidak terjadi perubahan yang mendasar dalam diri subyek penelitiannya. Ciri-ciri ini harus diusahakan untuk selalu dapat terwujud dalam setiap penelitian karena hal ini akan sangat mempengaruhi validitas dan reabilitas penelitian itu sendiri.(Suhadi Ibnu, 1994; 1).
Permasalahan validitas dan reabilitas penelitian berpusat pada mutu data yang ada dan bagaimana datatersebut diolah. Sedangkan mutu data itu sendiri sangat ditentukan oleh langkah-langkah penelitian yang dilakukan sebelumnya seperti identifikasi permasalahan dan penjabarannya ke dalam variabel-variabel penelitian, penyusunan desain penelitian dan bagaimana piranti atau instrumen pengumpul data tersebut dikembangkan.
Dalampenelitian kuantitatif, peneliti menggunakan instrumen penelitian sebagai alat untuk mendapatkan data yang akurat, sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti akan lebih banyak menjadi instrumen untuk mendapatkan data yang lebih lengkap, mendalam dan data-data yang tidak dapat diukur dengan kunatifikasi (angka-angka). Dengan demikian data yang dijaring dengan instrumen penelitian akan lebih bersifat obyektif, karena lebih empiris.
Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Dengan demikian jumlah instrumen tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Bila variabel penelitiannya tiga, maka jumlah instrumen yang akan digunakan tiga juga. Instrumen sudah ada dan dibakukandan ada juga yang harus dibuat oleh peneliti sendiri. Setiap instrumen akan mempunyai skala dan bermacam-macam skala pengukuran.
A.Jenis Skala Pengukuran
Skala pengukuran merupakan seperangkat aturan yang diperlukan untuk menguantifikasikan data dari pengukuran suatu variabel. Dengan pengukuran ini maka variabel yang diukur akan termasuk gradasi 37 derajat celcius. Sikap sekelompok orang akan termasuk gradasi dari suatu skala sikap. Macam-macam skala pengukuran dapat berupa skala nominal, ordinal, interval dan ratio.
1.Data Nominal
Penelitian dengan menggunakan skala nominal sebenarnya tidak melakukan pengukuran tetapi lebih pada mengkategorikan atau mengklasifikasikan, memberi nama dan menghitung fakta-fakta dari obyek yang diteliti. Contoh, peneliti mengkategorikan bahasa; bahasa Jawa, Sunda, Padang, Madura dan lain sebagainya. Memberi nama; kepala desa, sekretaris desa, pamong dan lain sebagainya. Menghitung fakta-fakta; jumlah pegawai, jumlah sarana dan lain sebagainya.
Skala nominal akan menghasilkan data yangdisebut data nominal atau data diskrit, yaitu data yang diperoleh dari mengkategorikan, memberi nama dan menghitung fakta-fakta dari obyek yang diobservasi.
2.Data Ordinal
Penelitian dengan menggunakan skala ordinal berartipeneliti akan melakukan pengukuran terhadap variabel yang diteliti. Skala ordinal adalah skala yang berjenjang dimana sesuatu mempunyai nilai lebih atau nilai kurang dibandingkan dengan yang lain.
Contoh Juara I mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan Juara II. Juara II mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan Juara III atau dengan kata lain Juara III nilainya lebih sedikit dibanding dengan Juara I dan Juara II. Jarak antara satu jenjang dengan jenjang yang lain tidak harus mempunyai nilai yang sama, tetapi dilihat karena adanya selisih perbedaan walaupun perbedaan tersebut sedikit jumlahnya.
Juara I: nilai rata-rata 8, 5
Juara II: nilai rata-rata 8, 3
Juara III: nilai rata-rata 7,9
3.Data Interval
Skala interval adalah skala yang jarak antara satu data dengan data yang lain sama tetapi tidak mempunyai nilai nolabsolut (nol yang tidakada nilainya). Sebagai contoh; ada tiga tingkatan penilaian;
Kurang:1-33
Sedang: 34- 66
Baik: 67 -99
Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa masing-masing tingkatan mempunyai jarak atau interval 32. Teknik pembuatan interval yang lazim digunakan adalah membagi jumlah tingkatan dengan angka 100 %.
4.Data Ratio
Skala ratio digunakan untuk mengukur variabel yang mempunyai data yang antara interval satu dengan interval lainnya mempunyai nilai nol absolut. Contoh berat 0 kg berarti memang tidak ada berat, panjang 0 cm berarti memang tiada ada panjang.
B.Beberapa Tipe Skala Pengukuran
Dari empat macam skala pengukuran seperti yang telah dibicarakan di atas, skala intervallah yang lebih banyak digunakan untuk mengukur fenomena atau gejala sosial. Para ahli sosiologi membedakan dua tipe skala menurut fenomena sosial yang diukur yaitu;
1.Skala pengukuran untuk mengukur perilaku susila dan kepribadian.
2.Skala pengukuran untuk mengukur berbagai aspek budaya lain dan lingkungan sosial.
Yang termasuk tipe yang pertama adalah; skala sikap, skala moral test karakter, skala partisipasi sosial. Yang termasuk tipe kedua adalah skala untuk mengukur status sosial ekonomi, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dan kondisi kerumahtanggaan.
Berbagai jenis skala yang dapat digunakan untuk mengukur fenomena sosial dan dapat dianalisis dengan metode statistik yaitu; skala untuk mengukur intelegensi, kepribadian, sikap, status sosial dan lain sebagainya. Pada pembahasan bab ini akan dijelaskan tipe skala untuk mengukur fenomena sosial yang dibatasi pada pengukuran sikap. Beberapa skala sikap yang sering digunakan dapat dijelaskan sebagai berikut;
1.Skala Likert
2.Skala Guttman
3.Rating Scale
4.Sematict Defferensial
5.Skala Thurstone
Kelima jenis skala tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan mendapatkan data interval atau ratio. Hal ini akan tergantung pada bidang yang akan diukur. Pada penjelasan ini skala Thurstone tidak akan dibahas.
1.Skala Likert
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti yang selanjutnya disebut dengan variabel penelitian.
Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi sub variabel. Kemudian sub variabel dijabarkan menjadi komponen-komponen yang dapat terukur. Komponen-komponen yang terukur ini kemudian dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan yang kemudian dijawab oleh responden.
Jawaban setiap item instrumen yangmenggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain;
1.Sangat setuju
2.Setuju
3.Ragu-ragu
4.Tidak setuju
5.Sangat tidak setuju
1.Sering
2.Kadang-kadang
3.Hampir tidak pernah
4.Tidak pernah
Untuk keperluan analisis secara kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya;
1.Sangat setuju/ selalu/ sangat positif diberi skor
2.Setuju/ sering/ positif diberi skor
3.Ragu-ragu/ kadang-kadang/ netral diberi skor
4.Tidak setuju/ hampir tidak pernah/ negatif diberi skor
5.Sangat tidak setuju/ tidak pernah/ sangat positif diberi skor
5
4
3
2
1
Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk cheklist ataupun pilihan ganda.
a.Contoh bentuk cheklist
No.
Pernyataan
Jawaban
SS
ST
RG
TS
STS
1.
2.
Bagi setiap guru yangmampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran akan diberi insentif tambahan.
……………………..
X
Keterangan:
SS= sangat setuju
ST= setuju
RG= ragu-ragu
TS= tidaksetuju
STS= sangat tidak setuju
b.Contoh bentuk pilihan ganda
1.Bagi setiap guru yangmampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran akan diberi insentif tambahan.
a.Sangat tidak setujuc. Ragu-rague. Sangat setuju
b.Tidak setujud. Setuju
2.SkalaGuttman
Skala pengukuran Guttman mempunyai ciri jawaban yang tegas, antara jawaban positif dan negatif, ya atau tidak, benar atau salah, pernah atau tidak pernah. Data yang diperoleh dapat berbentuk interval atau ratio dikotomi (dua alternatif). Kalau skala Likert terdapat1,2,3,4,5interval dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju, maka skala Guttman hanya dua interval yaitu setuju atau tidak setuju.Contoh;
1.Bagaimana pendapat anda, bila seorang guru mendapat kemudahan untuk melanjutkan studi kembali?
a.Setuju
b.Tidak setuju
2.Pernahkah pimpinan anda memberikan pembinaan secara terjadwal di kantor anda?
a.Tidak pernah
b.Pernah
3.Semantic Defferensial
Skala pengukuran ini dikembangkan oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda ataupun cheklist, tetapi tersusun dalam garis kontinum yang jawaban sangat positifnya terletak bagian kanan garis dan jawaban yang sangat negatif terletak di bagian kiri baris atau sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data interval dan biasanya skala digunakan untuk mengukur sikap atau karakter tertentu yang dimiliki seseorang.
Dalam pengukuran ini, responden dapat memberi jawaban, pada rentang jawaban yang positif sampai dengan negatif. Hal ini tergantung pada persepsi responden kepada yang dinilai. Responden yang memberikan penilaian dengan angka 5 berarti persepsinya sangat positif, sedangkan bila memberi penilain dengan angka 3 berarti netral dan jika memberikan penilaian dengan angka 1 berarti responnya sangat negatif. Sebagai contoh model pengukuran ini adalah sebagai berikut;
Beri nilai gaya kepemimpinan
Kepala Bagiananda
1.
Bersahabat
5
4
3
2
1
Tidak bersahabat
2.
Tepat janji
5
4
3
2
1
Lupa janji
3.
Bersahabat
5
4
3
2
1
Memusuhi
4.
Ramah
5
4
3
2
1
Suka marah
5.
Suka mendelegasikan
5
4
3
2
1
Mendominasi
4.Rating Scale
Tiga model pengukuran sebelumnya mempunyai ciri data dari kualifikasi baru ke kuantifikasi, rating scale data mentahnya berbentuk angka kemudian baru ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Sebagai penjelas, ketika responden menjawab senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, pernah atau tidak pernah, maka data ini berbentuk kualitatif. Dalam model pengukuran rating scale responden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang tersedia, melainkan menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang tersedia. Sebagai contoh;
Seberapa baik tata ruangan yang ada di Lembaga X
Berikan jawaban angka;
4 bila tata ruang sangat baik
3 bila tata ruang cukup baik
2 bila tata ruang kurang baik
1 bila tata ruang sangat tidak baik
Jawaban dengan melingkari nomor jawaban
No.
Pernyataan tentang tata ruang kelas
Interval Jawaban
1.
2.
3.
4.
5.
Penataan meja dan kursi belajar
Pencahayaan ruangan
Sirkulasi udara
Warna dinding ruangan
4321
4321
4321
4321
4321
C. Instrumen Penelitian
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Karena pada prinsipnya melakukan pengukuran, maka penelitian harus mempunyai alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasa dinamakan instrumen penelitian. Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena sosial maupun alam yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian.
Ditinjau dari strategi pengumpulan data yang digunakan, penelitian dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar; survai dan eksperimental (Suhadi Ibnu, 1994; 2). Dalam penelitian survai dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Penelitian survai biasa digunakan untukmengkaji masalah-masalah sosial,yang instrumen penelitiannya meliputi;field research, observasi terstruktur, dan kuesioner.
1. Field Research
Untuk memahami secara mendalam adat istiadat atau tradisi suatu kelompok etnis, field research merupakan pilihan yang paling prospektif. Model penelitian ini menuntut kehadiran langsung peneliti di lokasi penelitian. Oleh karena itu untuk menghindarkan berkembangnya situasi artifisial selama keberadaannya di lingkungan masyarakat tersebut, maka sedapat mungkin peneliti dapat menhindarkan diri untuk tidak membawa alat-alat yang dapat menimbulkan kecurigaan masyarakat, seperti; kamera, alat perekam, alat-alat pencatat dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini biasanya peneliti menggunakan cacatan kancah (filed notes) yang kadang-kadang dibedakan menjadi beberapa suku catatan seperti cacatan observasional, cacatan anekdotal, cacatan metodologis dan cacatan analitik.
Secara umum cacatan kancah digunakan untuk menuturkan pengamatan dan persepsi peneliti akan kejadian, proses dan fenomena-fenomena kehidupan yang disaksikan dan dialaminya selama berparsitipasi dalam kehidupan masyarakat sasaran penelitian. Untuk memudahkan pengolahan data beberapa ahli seperti; Erickson, Mc. Call, Simmon, dan Strauss, menyarankan agar cacatan kancah dijabarkan menjadi beberapa suku cacatan sesusi dengan jenis informasi yang dicatat.
Catatan observasional untukmencatat hal-hal yang teramati di lapangan baik konteks maupun fenomena yang terjadi. Sepintas catatan ini akan tampak trivial seperti catatan tentang ucapan, peran seorang tokoh, sapaan dan cacatan tentang situasi di mana dan kapan ucapan, peran dan sapaan tersebut diperlihatkan. Catatan anekdotal digunakan untuk mencatat hal-hal khusus yang dianggap menyimpang dari kerutinan yang mapan.
Catatan metodologis digunakan untuk mencatat hal-hal yang berhubungan dengan modifikasi-modifikasi metodologis atau langkah-langkah penelitian yang dilakukanpeneliti di lapangan, yang dihubungkan misalnya ketidakefektifandisain penelitian yang direncanakan semula. Sedangkan catatan analitik digunakan untuk merangkum seluruh cacatan observasional, anekdotal dan cacatan metodologis dan untuk menarik kesimpulan sementara atau persepsi peneliti akan kejadian-kejadian yang dialaminya di lapangan.
Tidak ada bentuk baku dari catatan-catatan di atas walaupun peneliti seharusnya membedakan catatan yang satu dari yang lain dengan menggunakan identitas atau kode tertentu. Dapat juga dibedakan dengan menggunakan spesifikasi fisik catatan seperti bentuk, warna, ukuran dan sebagainya. Bentuk-bentuk seperti tabel dan daftar dapat digunakan selama tidak mengurangi kekomprehensifan catatan yang sangat essensial artinya dalam penelitian etnografis.
2. Observasi Terstruktur
Observasi mempunyai kelebihan tersendiri dibandingkan dengan survai dalam kaitan dengan kualitas data yang dapat dijaring. Survai mengandalkan self report dari responden untuk mendiskripsikan fenomena-fenomena yang menjadi pusat perhatian peneliti, yang terkadang responden sering mendapatkan kesulitan untuk mengkonsepkanapa yang dilihat atau dialaminya. Sementara itu, observasi bebas dari hambatan untuk mengumpulkan data, karena peneliti langsung mengamati sendiri data-data yang dicarinya.
Namun demikian observasi juga mempunyai kelemahan-kelemahan tersendiri. Subyektifitas peneliti relatif tinggi dan data yang terkumpul sering kali sangat supervisialkarena hanya berdasar pada apa yang dapat dilihat oleh peneliti. Peneliti tidak mungkin mendapatkan data yang berhubungan dengan persepsi, sikap dan gejala-gejala kejiwaan yang lain dengan teknik observasi.
Dalam melakukan observasi seorang peneliti perlu mengembangkan disiplin yang tinggi agar observasi atau pengamatannya tidak menjadi terlalu luas dan bias, menjangkau hal-hal yang tidak relevan. Observasi terstruktur diharapkan dapat mengurangi ketidakrelevanan dan kebiasan pengamatan. Observasi terstruktur tidak sebebas observasi partisipatori dan tidak dapat diharapkanmemberikan data yang bersifat komprehenship dan mendalam seperti yang dihasilkan lewat observasi partisipatori. Walaupun demikian teknik ini mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan observasi partisipatori. Keluasan subyek sasaran dan kemungkinannya untuk divalidasi secara eksternal merupakan kelebihan observasi terstruktur dibandingkan dengan field research.
Secara garis besar observasi terstruktur memiliki kelebihan-kelebihan, berikut; Pertama, observasi terstruktur lebih jelas kaitannya dengan teori jika dibandingkan dengan observasi partisipatori. Kedua, penstrukturan pengamtan mungkin akan mendorong dilakukannya evaluasi terhadap teori yang sudah dianggap mapan. Ketiga, dibandingkan dengan interview atau kuesioner, observasi terstruktur memiliki reabilitas yang lebih tinggi. Keempat, observasi terstruktur lebih mudah disesuaikan dengan kondisi subyek penelitian dan lingkungan atau konteks sosial yang ada. Kelima, dalam kenyataannya partisipan atau responden tidak selalu mampu menagkap maksud pertanyaan peneliti, misalnya jika ia dihadapkan seorang pewawancara atau diminta untuk menjawab kuesioner.
Sesuainya dengan namanya maka dalam melakukan observasi terstruktur seorang petugas lapangan dibekali dengan suatu daftar isian yang harus diisinya selama ia melakukan pengamatan. Aspek-aspek yang harus diamati secara eksplisit sudah tercantum dalam instrumen penelitian yang telah dikembangkan. Berikut adalah petikan dari sebuah contohinstrumen untuk observasi terstruktur yang disusun oleh Smith (1981; 127) disebut Pedoman interview Diri Sendiri untuk pengamat atau observer Self Interview Schedule.
Contoh Pertanyaan Dalam Self Interview Schedule
Model A
32.Adakah penggledahan atas barang-barang atau orang dilakukan oleh petugas? (1) Ya (Lanjutkan ke no. 33)(2) Tidak(Lanjutkan ke no. 38)
33.Penggledahan apa yang dilakukan?(1) Penggledahan diri (lanjutkan ke no. 37)(2) Penggledahan atas barang-barang(lanjutkan ke no. 36)
34.Jika penggeldahan diri dilakukan, adakah tindakan ini menimbulkan reaksi menolak dari pengungsi (1) ya (lanjutkan ke no. 35)(2) Tidak (lanjutkan ke no. 36)
35.Wujud reaksi penolakan tersebut adalah (beri tanda v pada wujud pernyataan yang sesuai):
(1)Penampilan wajah menolak (…….)
(2)Kata-kata yang keras (……..)
(3)Keengganan(……..)
(4)Lain-lain (nyatakan…………….)
Model B
11.Adakah perubahan tingkah laku warga belajar setelah mendapatkan penyuluhan tentang belajar mandiri (A) Ya(B) Tidak
12.Jika warga belajar menunjukkan perubahan sikap tanda-tanda apakah yang dapat anda lihat? (Boleh lebih dari satu)
(A).Mereka lebih rajin mengikuti kegiatan(…….)
(B).Merekalebih tertib menyelesaikan tugas yang diberikan tutor (…….)
(C).Pertanyaan mereka lebih beragam (……..)
(D).Kerjasama antar warga menjadi lebih baik (…….)
Dari kedua contoh di atas terlihat bahwa observasi terstruktur jauh lebih mudah dilakukan daripada observasi partisipasi. Hal ini disebabkan karena butir-butir tingkah laku yang harus diamati sudah diklasifikasikan dengan jelas di dalam instrumen penelitian. Di samping memudahkanpetugas lapangan, data dari observasi terstruktur lebih mudah untuk untuk dianalisis, dapat mencakup sampel penelitian yang lebih banyak, lebih ekonomis dalam arti waktu dan biaya.
Tetapi observasi terstruktur juga mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu. Kedalaman pengamatan tidak akan mencapai sejauh apa yang dapat dijangkau oleh observasi partisipasi. Selain itu kadang-kadangada tingkah laku yang ditampakkan oleh subyek yang belum termasuk di dalam format penelitian.
Terdapat beberapa langkah penyusunan instrumenobservasi terstruktur sebagai berikut;
1.Identifikasi pola tingkah laku, gejala-gejala dan atribut-atribut lain subyek dan lingkungan yang akan dijadikan fokus pengamatan. Ini dilakukan sesuai dengan hakekat permasalahan dan tujuan penelitian.
2.Penulisan draf pertanyaan-pertanyaan pengamatan dengan format yang sesuai.
3.Validasi isi dan perwajahan dari draf instrumen yang telah disusun dengan mendiskusikannya dengan orang-orang yang dianggap kompeten atau tahu.
4.Uji coba instrumen untuk mengetahui apakah ada butir-butir yang belum dimasukkan.
5.Penulisan dan instrumen bentuk akhir.
3.Kuesioner dan Pedoman Wawancara
Survai adalah disain yang paling sering digunakan dalam penelitian sosial. Di negara-negara maju survai biasa dilakukan dengan menggunakan salah satu dari tiga teknik pengumpulan data sebagai berikut;kuesioner, wawancara (face to face interview) dan wawancara lewat telepon. Di Indonesia wawancara lewat telepon belum begitu lazim digunakan. Oleh karena itu dalam bab ini tidak akan dibicarakan secara khusus.
Ketiga teknik pengumpulan data di atas biasanya dilakukan dengan menggunakan sebuah daftar pertanyaan yang diajukan kepada responden, baik diajukan secara face to face(tertulis atau lisan), dikirim lewat suratmaupun pembicaraan lewat telepon. Dalam bagian berikut akan dibicarakan tipe-tipe pertanyaan, baik dalam bentuk kuesioner maupun pedoman wawancara.
Adadua tipe pertanyaan yang biasanya digunakan dalam kuesioner: pertanyaan tertutup atau terstrukturdan pertanyaan terbuka atau tidak terstruktur. Jika pertanyaan tertutupmaka peneliti menyediakan jawaban-jawaban yang dapat dipilih oleh responden untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Berikut contoh;
Bagaimana pendapat anda dengan anjuran Pemerintah untuk mengadakan sarasehan antar umat beragama?
a.Sangat setujud.Tidak Setuju
b.Setujue.Sangat tidak setuju
c.Ragu-ragu
Pertanyaan terbuka atau pertanyaan tidak terstruktur digunakan apabila peneliti ingin menjajagi seluas-luasnya opini atau pendapat responden atas hal-hal yang menjadi pokok kajian. Dalam kuesioner tidak disediakan pilihan jawaban sebagaimana dalam pertanyaan terstruktur (tertutup), tetapi responden diminta untuk memikirkan sendiri jawaban atas pertanyaan yang diberikan. Sebagai contoh;
Bagaimanakah pendapat anda tentang kebijakan-kebijakan Pemerintah terkait dengan Otonomi Pendidikan yang diberikan kepada masyarakat?
Baik pertanyaan terbuka maupun tertutup masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Salah satu kelemahan dari model pertanyaan terbuka adalah bahwa data yang terjaring kadang-kadang sulit untuk dianalisis secara kuantitatif, hal ini disebabkan oleh kategorisasi jawaban responden hanya dapat dilakukan sesudah data terkumpul. Dalam beberapa kasus jawaban yang diberikan oleh responden begitu beragam sehingga sulit untuk dapat diidentifikasi adanya suatu pola jawaban umum. Masalah ini tidak akan terjadi jika menggunakan bentuk pertanyaan yang tertutup.
Namun demikian pada sisi lain pertanyaan terbuka memungkinkan responden untuk menghayati pertanyaan dalam pemahaman mereka sendiri dan menjawab pertanyaan tersebut dalam bahasa mereka sendiri. Sayangnya jawaban-jawaban yang diberikan responden seringkali sulit dipahami maksudnya dan sulit pula dianalisa (Suhadi Ibnu, 1994; 15).
Untuk menyusun sebuah kuesionerperlu diperhatikan beberapa pedoman sebagai berikut;
1.Kuesioner biasanya terdiri dari tiga atau empat bagian; pengantar, petunjuk pengisian, isi kuesioner dan penutup. Pengantar berisi tentang maksud atau tujuan penelitian yang sedang dilakukan. Hal ini diperlukan untuk menghindari adanya rasa kekuatiran dan curiga dari responden sehingga mereka bersedia untuk memberikan jawaban pada pertanyaan yang diajukan. Petunjuk berisi tentang bagaimana cara responden memberikan jawaban. Isi kuesioner dapat dipilah menjadi dua bagian; identitas responden dan pertanyaan-pertanyaan penjaring informasi yang diperlukan. Penutup kuesioner antara lain berupa ucapan terima kasih kepada responden.
2.Urutan pertanyaan dalam kuesioner hendaknya disusun secara random saja, tetapi mengikuti pola tertentu. Pola tersebut diantaranya ialah dari pertanyaan yang sederhana ke yang kompleks, dari pertanyaan yang mudah ke yang sukar, pertanyaan yang bersifat umum ke yang khusus dan sebaiknya pertanyaan yang bersifat pribadi sebaiknya disampaikan palingakhir.
3.Rincian dari bentuk pertanyaan, seperti yang telah dijelaskan di atas dasar pemilihan bentuk pertanyaan adalah hakekat permasalahan yang sedang dikaji dan tujuan yang ingin dicapai dengan penelitian yang dilakukan.
4.Kejelasan pertanyaan penting bagi responden. Dengan kata lain peneliti harus menuliskan pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner dalam bahasa yang dimengerti oleh responden. Walaupun demikian harus dijaga agar peneliti tidak memandang rendah kemampuan responden apalagimenampakkan sikap menggurui.
5.Hindarkan bentuk pertanyaan yang menggiring. Karena peneliti merasa mempunayi beban untuk membuktikan bahwa hipotesisnya benar sering terjadi peneliti menuliskan pertanyaan yang sedemikian rupa sehingga responden menjadi terpengaruh untuk membenarkanatau menilai suatu fenomena yang bertentangan dengan suara hatinya sendiri. Model-model pertanyaan ini biasanya menggunakan kata-kata “ setujukah, benarkah, dan lain sebagainya.
6.Cross chek (pengujian silang). Untuk menguji atau mengetahui keteguhan responden dalam menyatakan sesuatu kadang-kadang dianggap perlu adanya suatu pengujian silang antara pertanyaan yang satu dengan pertanyaan yang lain. Sebuah pertanyaan positif perlu dichek dengan pertanyaan yang lain yang memiliki arah yang negatif, tetapi dalam pokok persoalan yang sama..
7.Pengendalian. Kuesioner yang disusun dengan baik selain berfungsi sebagai sarana pengumpul data sekaligus juga merupakan modal bagi peneliti untuk melakukan improvisasi di lapangan sehingga pertanyaan-pertanyaanyang disampaikan kemudian (khususnya dalam wawancara) menjadi lebih terarah. Data yang terkumpul dari penggunaan kuesioner sekaligus juga merupakan sarana untuk mengetahui valid atau tidaknya penelitian yangtelah dilakukan.
8.Uji-coba. Untuk mendapatkan instrumen penelitian yangbenar-benar baik perlu dilakukan sebuah uji coba penggunaan instrumen yang telah disusun. Sejumlah responden “bayangan” (antara 10 – 100 orang) diminta untuk mengisi kuesioner seperti halnya dalam penelitian yang sesungguhnya. Dari hasil uji coba ini sendiri banyak yang bisa diungkapkan terutama yang berhubungan dengan reabilitas dan validitas penelitian.
C.Validitas dan Reabilitas Instrumen
Perlu dibedakan antara hasil penelitianyang valid dan releabel dengan instrumen penelitian yang valid dan releabel. Hasil penelitian yang valid, terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyekyang diteliti. Kalau dalam obyek penelitiannya berwarna merah maka data yang terkumpul juga memberikan data merah. Kalau dalam obyek berwarna merah, sedangkan data yang terkumpul memberikan data putih maka hasil penelitian tidak valid. Selanjutnya hasil penelitian yang reliabel, bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Kalau dalam obyek penelitian kemarin berwarna merah maka sekarang maupun besok tetap berwarna merah (Sugiono, 1994; 97).
Instrumen yang valid berati alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) yang valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur. Instrumen yang reliabel berarti instrumen yang bila digunakan berkali-kali akan mendapatkan hasil (data) yang sama. Contoh alat ukur yang tidak reliabel adalah meteran yang berasal dari karet.
Dengan menggunakan intrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Jadi instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat utama untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel.
1.Pengujian Validitas Instrumen
a.Validitas Konstruk
Untuk menguji validitas konstruksi, maka dapat digunakan pendapat para ahli. Dalam halini setelah instrumen di konstruksi tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan para ahli.
Setelah pengujian konstruksi dari ahli selesai, maka diteruskan dengan uji coba instrumen. Instrumen yang telah disetujui para ahli tersebut diujicobakan pada sampel. Jumlah anggota sampel sebagai kelompok ujicoba paling tidak terdiri dari 30 orang. Setelah data didapat dan ditabulasikan, maka pengujian validitas konstruksi dilakukan dengan analisis faktor yaitu dengan mengkorelasikan antara skor item instrumen. Untuk emudahkan hal ini diperlukan sebuah program analisa statistik.
B. Validitas isi
Untuk instrumen yang berbentuk test, maka pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan isi materi pelajaran yang telah diajarkan. Seorang guru yang memberikan ujian di luar pelajaran yang telah disampaikan berarti instrumen ujian tersebut tidak mempunyai validitas isi. Untuk instrumen yang akan mengukur efektifitas pelaksanaan program, maka pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan isi atau rancangan program yang telah ditetapkan.
Secara teknis pengujian validitas konstruksi dan validitas isi dapat dibantu dengan kisi-kisi instrumen. Dalam kisi-kisi tersebut terdapat variabel yang diteliti, indikator sebagai tolak ukur, dan nomor butir (item) pertanyaan dan pernyataan yang telah dijabarkan dari indikator. Dengan kisi-kisi instrumen tersebut maka pengujian validitas dapat dilakukan dengan mudah dan sistematis (Sugiono, 1994; 101).
c. Validitas eksternal
Validitas eksternal instrumen diuji dengan cara membandingkan (untuk mencari kesamaan) antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta-fakta empiris yang telah terjadi di lapangan. Misalnya instrumen untuk mengukur kinerja sekelompok pegawai, maka kriteria kinerja pada instrumen tersebut dibandingkan dengan catatan-catatan di lapangan(empiris) tentang kriteria kinerja pegawai yang baik. Bila telah terdapat kesamaan antara kriteria dalam instrumen dengan fakta di lapangan, maka dapat dinyatakan instrumen tersebut mempunyai validitas eksternal yang tinggi.
Instrumen penelitian yang mempunyai validitas eksternal yang tinggi akan mengakibatkan hasil penelitian yang mempunyai eksternal yang tinggi p ula. Penelitian yang mempunyai validitas eksternal bila, hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada sampel lain dalam populasi yang diteliti. Untuk meningkatkan validitas eksternal instrumen maka dapat dilakukan dengan memperbesar jumlah anggota sampel.
2.Pengujian Reliabilitas Instrumen
Pengujian reabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan test-retest, eqiuvalen dan gabungan keduanya. Sedangkan secara internal reabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik tertentu.
a.Test-retest
Instrumen yang reliabilitasnya diuji dengan cara mencobakan instrumen beberapa kali kepada responden. Jadi dalam hal ini instrumennya sama, respondennya sama dan waktunya yang berbeda. Reabilitas diukur dari koefiensi korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya. Bila koefisien korelasi positif dan signifikan maka instrumen tersebut sudah dinyatakan reliabel. Pengujian instrumen dengan cara ini disebut stability.
b.Equivalen
Intrumen yang equivalen adalah pernyataan yang secara bahasa berbeda, tetapi maksudnya sama. Sebagai contoh(untuk satu butir pertanyaan saja); Berapa tahun anda kuliah di perguruan tinggi ini? Pertanyaan tersebut equivalen dengan pertanyaanberikut. Tahun berapa anda masuk di perguruan tinggi ini?
Pengujian reabilitas instrumen dengan cara ini cukup dilakukan sekali, tetapi intrumennya dua pada responden yang sama, waktu yang sama, instrumen berbeda. Reabilitas instrumen dihitung dengan cara mengkorelasikan antara data instrumen yang satu dengan data instrumen yang dijadikan equivalen. Bila korelasinya positif dan signifikan, maka instrumen dapat dinyatakan reliabel.
c.Gabungan
Pengujian reliablitas ini dilakukan dengan mencobakan dua intrumen yang eqiuvalen bebrapa kali, ke responden yang sama Jadi cara ini merupakan gabungan cara pertama dan kedua. Reliabilitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan dua instrumen yangequivalen pada pengujian pertama, setelah dikorelasikan pada pengujian kedua dan selanjutnya dikorelasikan secara silang.
Jadi dengan dua kali pengajian dalam waktu yang berbeda, akan dapat dianalisis enam koefisien reliabilitas. Bila enam koefisien korelasi itu kesemuanya positif dan signifikan, maka dapat dinyatakan bahwa instrumen tersebut reliabel.